HUT 100 Tahun PFI, Kepala Kantor Pos Medan Sempat Kaget

Medan, LintasTotabuan – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) ke-100 tahun atau seabad digelar di Ruang Corner Filateli Kantor Pos Besar Medan, Selasa (29/03/2022) kemarin.

Acara HUT ke-100 tahun PFI itu dihadiri Kepala Kantor Pos Besar Medan, Yudha yang saat bersama para pengurus dan anggota Pengurus Daerah (PD) PFI Sumatera Utara merasa kaget dengan usia PFI yang genap seabad. Kaget mendengar HUT ke-100 tahun.”Wah, kalau begitu berarti sudah lebih tua PFI dari umur kita,” Kepala Kantor Pos Besar Medan, Yudha.

Bacaan Lainnya

Acara HUT ke-100 tahun PFI dimulai dengan memberikan hadiah kepada peserta lomba menata prangko dan lomba berkirim surat. Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun diiringi dengan meniup lilin oleh Kepala Kantor Pos Besar Medan, Yudha sekaligus dirangkai dengan memotong kue bolu ulang tahun.

Acara berlangsung nonformal, tidak ada kata sambutan. Namun, diisi dengan bincang- bincang santai dengan para Pengurus PD PFI Sumatera Utara dan Pengurus Komunitas Filateli Sumatera Utara bersama Kepala Kantor Pos Besar Medan Yudha bersama para staf dan pegawai kantor pos.

Sementara Ketua PD PFI Sumatera Utara Drs. H Syahniman mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan filatelis yang masih semangat untuk menggelar acara HUT PFI dan diharapkannya kegiatan filateli dapat terus berlanjut.

Sedangkan seorang pengurus PD PFI Sumatera Utara dan filatelis dr. Rita Mawarni SP.F meminta kepada Kepala Kantor Pos Besar Medan, Yudha agar PD PFI Sumut dengan para pengurusnya tetap mendapat ruangan di Kantor Pos Besar Medan setelah rencana akan digusur ruangan PD PFI Sumut di Kantor Pos Besar Medan karena ingin dijadikan peruntukkan lain.

Pada kesempatan terpisah, Ketua Komunitas Filateli Sumatera Utara, Lukman Yanis meminta kepada pemerintah agar penggunaan prangko tetap dilakukan seperti di negara lain di dunia. Dicontohkannya di Malaysia meskipun pengiriman surat pakai tanda terima akan tetapi tetap ditempeli dengan prangko sesuai dengan biaya pengiriman surat tersebut.

“Berbeda dengan di Indonesia, jika sudah pakai tanda terima pengiriman surat tidak lagi ditempeli prangko maka itu sama dengan penggunaan prangko semakin ditiadakan,” kata Lukman Yanis menjelaskan.

Pada hal prangko sebagai alat pelunasi biaya pengiriman surat maka wajib dtempel dengan prangko sebagai bukti pelunasan biaya pengiriman surat. Diakuinya pemerintah Indonesia masih tetap eksis dalam menerbitkan prangko yang minimal setahun ada dua belas kali penerbitan seri prangko, akan tetapi penggunaannya yang tidak dimaksimalkan

Untuk itu harus sejalan dengan eksisnya pemerintah menerbitkan prangko maka baiknya juga eksis dalam penggunaan prangko sehingga kegiatan Filateli dapat terus tumbuh dan berkembang di Indonesia.(LY)

Pos terkait